Google: mau nyambungin data center AI ke listrik, bisa antre 5 sampai 10 tahun
Hambatan terbesar AI ternyata bukan chip, tapi colokan. Kami cek kutipan aslinya di POLITICO dan apa kaitannya dengan data center di Indonesia.
oleh Tim Otaknologi, pagi ini 13.34 · 2 mnt baca

Kalau ditanya apa hambatan terbesar perusahaan AI sekarang, banyak orang akan menjawab chip atau uang. Google punya jawaban lain: colokan listrik. Petinggi Google yang mengurus energi bilang, perusahaan listrik di Amerika Serikat memberi tahu mereka bahwa sambungan baru untuk data center bisa makan waktu lima tahun, kadang sepuluh tahun.
Kata Google
Pernyataan ini datang dari Marsden Hanna, kepala kebijakan energi dan keberlanjutan Google, di podcast POLITICO Energy. Artikelnya terbit 14 Okt 2026 dengan judul yang cukup blak-blakan: Google butuh jaringan listrik, jaringan listriknya nggak sanggup mengejar.

Menurut POLITICO, lambatnya menyambung ke jaringan listrik AS adalah ujian paling mengancam buat operasi data Google. Kata Hanna sendiri: "Tantangan terbesar kami untuk pertumbuhan data center adalah kemacetan jaringan listrik."


"Kemacetan jaringan" di sini mirip jalan tol yang sudah padat. Kabel transmisi dan gardu di sebuah wilayah sudah hampir penuh dipakai. Menambah satu pelanggan raksasa seperti data center berarti harus menunggu jalannya dilebarkan dulu, dan pelebaran itu yang makan waktu bertahun-tahun.
Kenapa bisa antre selama itu?
Data center AI makan listrik dalam jumlah besar dan terus-menerus, siang-malam. Satu kompleks besar bisa butuh daya setara sebuah kota kecil. Jaringan listrik tidak dibangun untuk lonjakan permintaan secepat ini. Menambah sambungan besar berarti perusahaan listrik harus memastikan pembangkit dan kabel transmisinya cukup. Membangun kabel transmisi baru sendiri bisa bertahun-tahun karena izin, lahan, dan biaya.
Ibaratnya kamu sudah beli kompor paling canggih, tapi PLN bilang tambah daya harus antre lima tahun.
Itu sebabnya, menurut ringkasan POLITICO, Google sedang mendorong pembangunan jalur listrik baru dan pemanfaatan kapasitas jaringan yang selama ini menganggur.
Di Indonesia juga mulai terasa
Ceritanya memang dari Amerika, tapi soal data center dan sumber daya alam juga sedang ramai di sini. Pekan ini kami menulis dua kabar: data center AI di kawasan Jatiluhur disetop karena urusan air, dan Walhi lewat siaran pers 1 Okt 2026 meminta pemerintah menahan dulu pembangunan data center baru (moratorium) sampai ada aturan khusus soal air.
Bedanya, di sini yang lebih disorot air, di Amerika listrik. Tapi intinya sama: AI yang kita pakai lewat HP ternyata berdiri di atas bangunan fisik yang butuh listrik dan air beneran, dan sumber dayanya terbatas.
Jadi, apa artinya buat kita?
Bukan berarti kita harus berhenti pakai AI. Satu pertanyaan ke chatbot tidak akan bikin listrik padam. Tapi ada dua hal yang layak diingat.
Pertama, pakai seperlunya. Minta AI membuat gambar atau video berkali-kali hanya untuk iseng tetap ada ongkosnya, walau kita tidak melihatnya langsung.
Kedua, ikut perhatikan. Kalau ada rencana data center dibangun dekat tempat tinggalmu, kamu berhak tahu dari mana listrik dan airnya, dan apa dampaknya buat warga sekitar.
Lihat di Instagram
Versi singkatnya, lengkap dengan slide bukti, ada di Instagram @otaknologi:

