Otaknologi

Indonesia Maju di Era SI.

Kupas

Tugasmu dituduh ditulis AI gara-gara skor detektor? Pembuatnya sendiri bilang: itu bukan bukti

OpenAI menutup detektor tulisan AI-nya karena kurang akurat. Turnitin menulis skornya jangan jadi satu-satunya dasar, dan tugas berbahasa Indonesia belum diproses. Ini yang perlu kamu tahu.

oleh Tim Otaknologi, pagi ini 12.33 · 3 mnt bacaDraf dibantu AI, dicek manusia

Halaman OpenAI 2023: detektor hanya mengenali 26% tulisan AI dan salah menuduh 9% tulisan manusia
cuma 26 dari 100

Banyak guru dan dosen sekarang memakai detektor AI untuk memeriksa tugas. Hasilnya biasanya berupa angka: sekian persen tulisan ini "kemungkinan dibuat AI". Masalahnya, angka itu sering diperlakukan seperti vonis. Padahal pembuat detektornya sendiri sudah mengingatkan: skor itu bukan bukti.

OpenAI pernah bikin detektor, lalu menutupnya

Pada Januari 2023, OpenAI, pembuat ChatGPT, merilis alat untuk menebak apakah sebuah tulisan dibuat AI. Di halaman pengumumannya, OpenAI menulis hasil ujinya sendiri: alat itu hanya berhasil mengenali 26% tulisan AI, dan salah menandai tulisan manusia sebagai tulisan AI pada 9% kasus.

Halaman OpenAI 2023: detektor hanya mengenali 26% tulisan AI dan salah menuduh 9% tulisan manusia
Angka dari OpenAI sendiri: 26 dari 100 tulisan AI tertangkap, 9 dari 100 tulisan manusia salah dituduh.Sumber: OpenAI (2023)

OpenAI juga menulis bahwa alat itu sangat tidak bisa diandalkan untuk teks pendek (di bawah 1.000 karakter) dan jauh lebih buruk untuk bahasa selain Inggris. Enam bulan kemudian, 20 Juli 2023, alatnya ditutup.

Halaman OpenAI: detektor tulisan AI ditutup 20 Juli 2023 karena akurasinya rendah
Ditutup karena akurasinya rendah, kata OpenAI.Sumber: OpenAI (2023)

Turnitin: skornya jangan jadi satu-satunya dasar

Turnitin, alat pemeriksa tugas yang dipakai banyak kampus, juga punya detektor tulisan AI. Di panduan resminya, Turnitin menulis bahwa persentase pada indikator tulisan AI tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar untuk bertindak, atau dijadikan ukuran nilai yang pasti oleh pengajar. Turnitin menyebut dirinya hanya memberi data, dan keputusan tetap di tangan pengajar.

Panduan Turnitin: skor AI jangan dijadikan satu-satunya dasar untuk bertindak
Kata Turnitin sendiri: bukan dasar tunggal untuk bertindak.Sumber: Turnitin (dicek 17 Okt 2026)

Ada satu hal lagi yang penting buat kita: di daftar bahasa yang didukung detektor AI Turnitin, Bahasa Indonesia tidak ada. Menurut panduan yang sama, kalau tugas dikirim dalam bahasa yang tidak didukung, detektornya tidak akan memproses tugas itu.

Panduan Turnitin: daftar bahasa yang didukung detektor AI, Bahasa Indonesia tidak termasuk
Bahasa yang didukung: Inggris, Spanyol, Jepang, Arab, Belanda, Jerman, Turki.Sumber: Turnitin (dicek 17 Okt 2026)

Yang bukan penutur asli lebih sering dituduh

Peneliti Stanford menguji beberapa detektor tulisan AI pada 2023 dan menerbitkan hasilnya di jurnal Patterns. Temuannya: lebih dari separuh contoh tulisan bahasa Inggris dari orang yang bahasa ibunya bukan Inggris dikira buatan AI. Tulisan penutur asli hampir selalu dinilai benar.

Studi Stanford di jurnal Patterns: lebih dari separuh tulisan penutur non-asli bahasa Inggris dikira buatan AI
Contoh tulisan penutur non-asli lebih sering dikira buatan AI.Sumber: Patterns (Juli 2023)

Artinya, mahasiswa Indonesia yang menulis tugas berbahasa Inggris termasuk kelompok yang lebih berisiko dituduh, padahal menulis sendiri.

Ibaratnya alat tes yang sering salah baca. Hasilnya boleh jadi petunjuk untuk ditanyakan lebih lanjut, tapi tidak bisa langsung jadi vonis.

Yang bisa kamu lakukan

  1. Simpan draf dan riwayat versi. Google Docs dan Word menyimpan riwayat perubahan. Itu bukti proses kerja yang paling kuat.
  2. Pakai AI sesuai aturan dosen atau sekolah, dan jujur kalau memakainya. Tulisan ini bukan cara lolos dari detektor, tapi cara membela diri kalau dituduh tanpa dasar.
  3. Kalau dituduh, minta diperiksa dengan cara lain. Misalnya diminta menjelaskan isi tugas secara langsung, atau menunjukkan catatan dan sumber yang kamu pakai.