Tugasmu dituduh ditulis AI gara-gara skor detektor? Pembuatnya sendiri bilang: itu bukan bukti
OpenAI menutup detektor tulisan AI-nya karena kurang akurat. Turnitin menulis skornya jangan jadi satu-satunya dasar, dan tugas berbahasa Indonesia belum diproses. Ini yang perlu kamu tahu.
oleh Tim Otaknologi, pagi ini 12.33 · 3 mnt baca

Banyak guru dan dosen sekarang memakai detektor AI untuk memeriksa tugas. Hasilnya biasanya berupa angka: sekian persen tulisan ini "kemungkinan dibuat AI". Masalahnya, angka itu sering diperlakukan seperti vonis. Padahal pembuat detektornya sendiri sudah mengingatkan: skor itu bukan bukti.
OpenAI pernah bikin detektor, lalu menutupnya
Pada Januari 2023, OpenAI, pembuat ChatGPT, merilis alat untuk menebak apakah sebuah tulisan dibuat AI. Di halaman pengumumannya, OpenAI menulis hasil ujinya sendiri: alat itu hanya berhasil mengenali 26% tulisan AI, dan salah menandai tulisan manusia sebagai tulisan AI pada 9% kasus.

OpenAI juga menulis bahwa alat itu sangat tidak bisa diandalkan untuk teks pendek (di bawah 1.000 karakter) dan jauh lebih buruk untuk bahasa selain Inggris. Enam bulan kemudian, 20 Juli 2023, alatnya ditutup.

Turnitin: skornya jangan jadi satu-satunya dasar
Turnitin, alat pemeriksa tugas yang dipakai banyak kampus, juga punya detektor tulisan AI. Di panduan resminya, Turnitin menulis bahwa persentase pada indikator tulisan AI tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar untuk bertindak, atau dijadikan ukuran nilai yang pasti oleh pengajar. Turnitin menyebut dirinya hanya memberi data, dan keputusan tetap di tangan pengajar.

Ada satu hal lagi yang penting buat kita: di daftar bahasa yang didukung detektor AI Turnitin, Bahasa Indonesia tidak ada. Menurut panduan yang sama, kalau tugas dikirim dalam bahasa yang tidak didukung, detektornya tidak akan memproses tugas itu.

Yang bukan penutur asli lebih sering dituduh
Peneliti Stanford menguji beberapa detektor tulisan AI pada 2023 dan menerbitkan hasilnya di jurnal Patterns. Temuannya: lebih dari separuh contoh tulisan bahasa Inggris dari orang yang bahasa ibunya bukan Inggris dikira buatan AI. Tulisan penutur asli hampir selalu dinilai benar.

Artinya, mahasiswa Indonesia yang menulis tugas berbahasa Inggris termasuk kelompok yang lebih berisiko dituduh, padahal menulis sendiri.
Ibaratnya alat tes yang sering salah baca. Hasilnya boleh jadi petunjuk untuk ditanyakan lebih lanjut, tapi tidak bisa langsung jadi vonis.
Yang bisa kamu lakukan
- Simpan draf dan riwayat versi. Google Docs dan Word menyimpan riwayat perubahan. Itu bukti proses kerja yang paling kuat.
- Pakai AI sesuai aturan dosen atau sekolah, dan jujur kalau memakainya. Tulisan ini bukan cara lolos dari detektor, tapi cara membela diri kalau dituduh tanpa dasar.
- Kalau dituduh, minta diperiksa dengan cara lain. Misalnya diminta menjelaskan isi tugas secara langsung, atau menunjukkan catatan dan sumber yang kamu pakai.


