Foto langit Selandia Baru dituduh AI, ternyata asli
Foto langit penuh 14.000 garis satelit di atas Gunung Taranaki dituduh buatan AI. Fotografernya menyusunnya dari 578 foto selama 45 jam, dan prosesnya ia rekam.
Ditulis & diperiksa: Syamil Jihad · 5 Nov · 4 mnt baca

Foto langit malam di atas Gunung Taranaki, Selandia Baru, yang penuh ribuan garis satelit ini dituduh buatan AI. Ternyata asli. Fotografernya, Brendan Larsen, menyusunnya dari 578 foto kamera yang ia tumpuk selama sekitar 45 jam. Kisahnya dilaporkan The Guardian pada 4 November 2026.

Kenapa banyak yang yakin ini AI
Larsen mengunggah fotonya pertengahan Oktober. Menurut The Guardian, foto itu ditonton puluhan juta kali, menambah 15.000 pengikut, dan memancing ribuan komentar. Sebagian penonton yakin itu buatan AI. Di X, ada yang membalas: coba zoom saja, jelas ini AI.
Wajar kalau orang curiga. Garisnya terlalu banyak dan terlalu rapi untuk langit yang biasa kita lihat. Larsen sendiri paham: menurutnya, AI sekarang makin jago sampai foto asli pun susah dibedakan, apalagi kalau kamu tidak kenal tempatnya atau tidak paham astrofotografi.
Cara fotonya dibuat
Bulan September, Larsen memasang kameranya untuk memotret langit berulang kali: tiap jepretan 8 detik, jeda 2 detik. Ia membiarkannya jalan dua jam dan mendapat 578 foto. Katanya, itu bagian yang gampang.
Bagian susahnya datang setelah itu. Ia menghabiskan sekitar 45 jam di Adobe Photoshop untuk menumpuk foto-foto itu. Tiap foto berisi sekitar 25 satelit. Sebagian besar waktunya habis untuk menghapus bintang satu per satu, supaya garis satelitnya kelihatan.

Hasilnya, sekitar 1.400 satelit dan 14.000 garis lintasan yang bersilangan di atas gunung.

Teknik ini disebut stacking atau penumpukan: banyak foto dari posisi kamera yang sama digabung jadi satu. Garis putihnya adalah jejak satelit yang lewat selama dua jam itu, bukan gambar yang dikarang komputer.
Dia sudah menduga bakal dituduh
Karena sudah menduga tuduhan AI, Larsen merekam proses kerjanya di video. Ia berharap video itu juga membuat penonton merasa dekat dengan tempatnya. Tetap saja, kata Larsen, tuduhan itu bikin frustrasi. Ia juga kesal melihat fotonya diunduh lalu dibuat ulang pakai AI, dengan cacat yang jelas.

Bukan kasus pertama
Tuduhan salah alamat seperti ini makin sering. Teaser film Oki & Nirmala juga dituduh AI, lalu Paragon menjawab dengan rekaman VFX-nya. Kebalikannya juga ada: video mi instan dari cicak ditonton jutaan kali dan dikira asli, padahal buatan AI.
Detektor AI pun bukan jalan pintas. Hasilnya sering meleset, seperti kami bahas di detektor AI bukan bukti.
Sebelum teriak "AI!"
- Cek siapa pembuatnya. Apakah ia punya karya lain yang mirip, atau dikenal di bidangnya?
- Cari proses kerjanya. Banyak kreator kini menyimpan foto mentah, video proses, atau riwayat file.
- Kenali tekniknya. Foto langit, long exposure, dan efek film sering terlihat "terlalu bagus", padahal teknik lama.
- Tanya dulu, jangan langsung vonis. Tuduhan AI yang salah bisa merugikan orang yang bekerja berjam-jam.
Makin paham cara mengecek, makin adil kita menilai karya orang, dan makin susah dikibulin.
Foto sampul: Gunung Taranaki oleh Dave Young (Wikimedia Commons, CC BY 2.0), bukan foto Larsen


