Virus buatan AI disuntikkan ke manusia? Kami cek klaimnya
Startup AS Radical Numerics bilang fag rancangan AI-nya sudah diberikan ke satu pasien. Hasilnya dirahasiakan dan laporannya belum ditinjau ilmuwan lain.
Ditulis & diperiksa: Syamil Jihad · 26 Okt · 4 mnt baca

Benar ada klaim virus rancangan AI diberikan ke manusia, tapi belum ada bukti hasilnya. Startup asal California, Radical Numerics, menulis di blognya (20 Oktober 2026) bahwa fag rancangan model AI mereka, Omnii-1, sudah diberikan ke satu pasien yang infeksinya kebal antibiotik. Fag adalah virus yang hanya menyerang bakteri, bukan sel manusia. Kondisi pasien setelahnya dirahasiakan, dan laporannya belum ditinjau ilmuwan lain.

Klaimnya dari perusahaannya sendiri
Di blognya, Radical Numerics menyebut ini “penggunaan klinis pertama di dunia untuk fag buatan AI”. Model AI mereka, Omnii-1, dilatih membaca DNA, RNA, dan protein, lalu dipakai merancang fag yang cocok dengan bakteri dari tubuh pasien.
“In the world's first clinical use of AI-generated phages, Omnii-1 designs were administered to a human patient under compassionate use.”
Kalimat ini dari perusahaannya sendiri. Belum ada pihak luar yang memeriksa klaim “pertama di dunia” itu. Cara membaca klaim pembuat seperti ini mirip dengan cara membaca angka benchmark AI: angka dan klaim dari pembuatnya perlu dicek pihak lain.
Virus AI ini apa? Virus pemakan bakteri, bukan virus flu
Fag (bakteriofag) adalah virus yang menyerang bakteri. Terapi fag dipakai kalau antibiotik sudah tidak mempan. Masalahnya, fag sangat pilih-pilih: satu jenis fag hanya cocok untuk bakteri tertentu, jadi biasanya harus dicari satu per satu dari koleksi yang ada. Di sini, AI yang merancangnya.
Radical Numerics menulis: “Phages do not infect human cells, and phage therapy is generally considered safe.” Artinya, fag tidak menginfeksi sel manusia, dan terapi fag umumnya dianggap aman.
AI yang ikut merancang bahan biologi bukan hal baru. Bulan ini kami juga membahas Claude yang membuat ratusan ribu desain protein penangkal racun kalajengking, dan di sana pun yang lolos uji lab jauh lebih sedikit dari yang dirancang.
Lewat jalur darurat, bukan uji klinis
Fag itu diberikan lewat compassionate use: jalur untuk pasien berat yang pilihan obatnya hampir habis, supaya bisa menerima obat yang masih diteliti di luar uji klinis, di bawah pengawasan dokter dan regulator. Jadi ini satu pasien, bukan uji coba ke banyak orang.
Yang terbukti dan yang belum
Yang terbukti, menurut perusahaannya: di laboratorium, campuran fag yang berisi rancangan Omnii-1 membunuh bakteri kebal antibiotik yang diambil dari pasien itu. Setelah itu, campurannya diberikan ke pasien.
Yang belum: kondisi pasien sesudahnya. Radical Numerics menulis, “we cannot disclose the patient’s clinical course or outcomes to safeguard their privacy”. Mereka tidak bisa membuka perkembangan dan hasil pengobatan pasien demi privasi.
Dicek pihak lain: masih skeptis
Menurut Futurism, yang mengutip liputan New York Times, laporan Radical Numerics diterbitkan sendiri di situsnya, tidak lewat jurnal ilmiah, dan belum ditinjau ilmuwan lain (peer review). Perusahaan juga menolak membagikan informasi klinis soal pasien dan dokternya.

Ahli mikrobiologi Harvard, Michael Baym, bilang ke New York Times: kalau berhasil, itu luar biasa, tapi nalurinya skeptis. CEO Radical Numerics, Eric Nguyen, menjawab bahwa temuan ilmiahnya akan diterbitkan lewat penelitian yang ditinjau ilmuwan lain, dan detail klinis baru dibuka kalau ada persetujuan.
Jadi, beneran?
- Disuntikkan ke manusia? Kata perusahaannya, iya, ke satu pasien, lewat jalur darurat. Blognya menulis “diberikan”, tanpa menyebut caranya.
- Berhasil? Belum ada bukti yang bisa dicek.
- Pertama di dunia? Klaim mereka sendiri, belum dicek pihak luar.
Lihat di Instagram
Versi singkatnya, lengkap dengan slide bukti, ada di Instagram @otaknologi:


